Sebagai Ibu newbie, sering saya menerapkan metode trial and error dalam mengasuh Baby H. Soal makanan, dulu di awal periode MPASI sampai 13 bulan, gampang sekali Anak Lanang makan. Lahap, no drama. Disuapin oke, makan sendiri juga habis.

Nah, menginjak 14 bulan, kenallah Baby H dengan yang namanya GTM. Gerakan Tutup Mulut. Mulai dari mingkem saat ada makanan, sampai lepeh-lepeh saat makanan masuk. Di momen ini, derajat stres saya mulai naik.

Mulanya, saya mah masih idealis banget. Dari mulai MPASI sampai 13 bulan, doi makan makanan yang saya olah sendiri. Tanpa gula-garam. Niat belanja-belinji macam-macam bahan yang cuma terbeli demi MPASI; EVOO, unsalted butter, butternut pumpkin, kabocha, unsalted cheese, dan lain-lain. Wis, pokoknya kalau nggak demi MPASI, saya mah nggak pernah beli.

Dalam sebuah kunjungan ke DSA, saat mengetahui saya bisa membuat 8-10 menu setiap hari demi anak mau makan, dokter menasihati saya.

“Ibu, tidak perlu memaksakan diri untuk menjadi sempurna. Kalau ibu lelah, lalu menjadi stres, anak pun akan merasakannya. Berkompromilah demi diri sendiri.”

Ya, gambarannya begini. Dalam sehari saya bisa membuat bakso homemade, quichie lorraine, perkedel tahu, sop ayam, tempe kukus, salmon grilled, nugget brokoli keju, tumis sayur, dan puding mangga, juga sus kering.

Setiap anak gagal makan di satu menu, saya segera masak menu lain. Gagal lagi, masak lagi. Begitu seterusnya sampai dapat menu yang dimau. Capek? Saat itu saya tidak berpikir soal capek. Tapi memang boros waktu. Haks!

No more drama, Please..
Pict: Okezone

“Ibu nyetok abon nggak apa-apa kok. Kasih biskuit juga nggak apa-apa. Mau beli makanan di luar? It’s okay, Ibu.”

Plong. Yes, Moms, memang benar kata dokter. Tidak usah memaksakan diri menjadi sempurna.

Dan, yang namanya GTM ini, tampaknya membuat saya goyah. Ehm. Mulailah saya beli camilan buatan pabrik. Mulailah saya beli bubur bayi di luar. Dan, akhirnya merembet, Baby H mulai makan keripik pisang,  bakmi, dan makanan luaran lain.

Di titik ini, saya harus paham konsekuensi. Oke, saya tahu, teori-teori di luar sana mungkin menyalahkan saya. Tapi, sebagai ibu newbie yang sedang putus asa, saya merasa terbantu pula saat Hanif mau makan putu ayu yang lewat depan komplek. Sebagai ibu yang mulai panik berat badan anak turun terus, saya mulai mendapatkan harapan saat anak lahap makan kentang goreng.

Ibu yang egois karena membiarkan anak makan sembarangankah saya?

Di dalam rumah, saya tetap memegang kendali. Sampai saat ini, kalau anak makan di rumah, higienitas dan keamanan masih dalam kontrol. Bedanya, jika dulu saya mem-push diri sendiri untuk masak apa saja sampai anak doyan, bahkan bisa sampai 10 menu dalam sehari, sekarang tidak. Cukup masak 2-3 menu saja. Kalau ditolak, cari alternatif yang lebih mudah.

Sekarang Baby H masih sering GTM kah? Masih. Haha. Kabar baiknya, doi tidak terlalu pemilih, kecuali sedang sakit atau fase GTM lagi. Makan plain oke, berbumbu juga doyan. Makanan rumahan mau, di luar juga tidak menolak.

Perjalanan menjadi Ibu masih panjang. Yang penting sehat dulu jiwanya. Sambil terus belajar. Mungkin saat ini saya merasa sudah (cukup) benar, barangkali nanti proses membawa saya ke titik yang lebih baik.

Jangan lupa bahagia, Mommies. Kecup untuk semua. Muah.

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

©2017 Anggrahini KD's Personal Blog - By LarisBanget.Com