Saya flashback ke masa kecil. Dulu, tidak ada internet. Akses buku-buku parenting juga sangat terbatas. Beruntung, saya dikelilingi lingkungan yang sehat dan menyenangkan. Ibu saya adalah orang yang sangat keras dan disiplin. Waktu kecil, saya sering menggerutu. Kenapa Ibu galak sekali. Hihi.

Tapi, di sisi lain, saya adalah cucu pertama. Perempuan pula. Bagi eyang yang berputra 9 dengan ibu saya sebagai anak perempuan satu-satunya. Tumbuh dimanjakan, dibela, dan diberi banyak pengalaman manis di sana.

Ibu melarang makan es krim, Eyang memperbolehkan. Ibu melarang main ke luar, Eyang mengizinkan.  Jadi, akhirnya Ibu dan Eyang sering bersitegang karena beda mahdzab menghandle saya. Tapi, dari sekian banyak perbedaan sikap Ibu dan Eyang, saya merasakan hal yang sama kok. Kehangatan.

Dalam hal sekolah dan kedisiplinan, Ibu memang galak. Tapi, sejak kecil, Ibu adalah teman berbincang yang sangat apresiatif. Hangat. Saya memiliki teman bercerita sejak bayi. Bersama Ibu, saya menceritakan sebagian besar pengalaman sehari-hari. Menjelang remaja, memang sedikit ada hambatan komunikasi. Yes, masalah pubertas. Haha.

Bersama Eyang, saya menemukan juru dongeng. Sebagian besar dongeng yang dikisahkan Eyang adalah hasil karangan beliau sendiri. Tentang Anjing Tentara Jepang, Kuda Sinden, atau fairytale kejawen macam Senggutru.

Somehow, saya orangnya random. Tidak terkonsep. Kadang mood, kadang tidak. Kadang ada ide, kadang mampet. Tapi, ada satu hal yang saya pegang selama memberi atau mendampingi aktivitas anak. Saya harus jadi orang tua yang apresiatif.

Baby H bermain bersama Papa

Entah aktivitas apa yang dilakukan anak. Berhasil dengan baik atau bertemu dengan hambatan, saya harus menghargai upayanya.

Ego. Ya, mengalahkan ego sebagai pribadi. Sebagai ibu yang kadang egois menitipkan banyak harapan pada anak. Saya harus belajar tersenyum melihat upaya anak saat tidak sesuai dengan apa yang saya harap. Saya harus mendengarkan dia. Menghargai inisiatifnya.

Begitu banyak aktivitas bermain anak masa kini yang bisa ditemukan di belantara internet. Just do it. Lakukan jika memang ingin. Atau, lakukan jika memang memiliki tujuan.

Tapi, lihatlah anak berusaha dan hargai. Senyum saja saat ia berusaha tapi belum bisa.

Itu dulu ya, Moms.

 

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

©2017 Anggrahini KD's Personal Blog - By LarisBanget.Com