Ibu membuat saya bisa membaca di usia dini. Jauh sebelum bisa membaca, seminggu sekali Bobo datang ke rumah kami. Menginjak usia 4 tahun, Ibu mulai mengajari membaca. Akhirnya, saya memang bisa membaca Bobo sendiri tanpa dibacakan. Berlanjut dengan nggragas bacaan apa saja yang ada di rumah. Gatra, Tempo, Suara Merdeka, Inti Sari, sampai Buku Beternak Puyuh. Haha. Waktu Tragedi ’98 terjadi, saya berusia 10 tahun. Diam-diam membaca buku, koran, dan tabloid milik orang tua dan eyang. Di mana, akhirnya saya masih bisa mengingat nama-nama macam Faisol Reza dan Haryanto Taslam di lembar-lembarnya.

Selain majalah Bobo, akses bacaan anak-anak di masa saya kecil memang jarang. Perpustakaan sekolah tak pernah dibuka kuncinya. Sudah berlangganan Bobo pun rasanya sudah lebih lumayan dibanding teman kebanyakan. Berbeda dengan sekarang. Buku-buku relatif lebih mudah diperoleh, meski pada akhirnya era internet membuat buku-buku menumpuk berdebu. Ini terjadi di saya. :-/

Kekep Dompeeeetttt

Saya pengin memberi bacaan anak-anak yang tepat untuk Baby H. Buku yang pas untuk Balita. Dan, yang saya nantikan saat ini adalah Big Bad Wolf (BBW) Indonesia. Bulan depan, tepatnya 21 April sampai 2 Mei 2017, sale buku berskala internasional ini hadir di ICE BSD. Yeay. Nggak jauh dari rumah.

Tahun lalu, saya juga membelikan Baby H buku-buku dari BBW. Buku-buku import dengan kertas tebal, dengan desain lucu-lucu, tapi harganya bikin bahagia. Namanya juga emak-emak, ya. Pasti jatuh cinta dengan diskonan. Hihi.

Jadi, bulan ini irit-irit dulu deh. Saatnya ngumpulin modal buat kulakan bukunya Baby H. Semoga doi cukup kooperatif diajak berburu. Auuwwwwww.

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

©2017 Anggrahini KD's Personal Blog - By LarisBanget.Com