Tiket pesawat ke Singapura dari Jakarta termasuk murah meski tanpa promo maskapai. Kadang biking ngiler pengin sering-sering main kesana. Tapiiii, yang bikin nggak jadi ngiler adalah biaya tinggal di sana. Ya penginapan, ya makanan, relatif bikin kantong cepat kosong.

Tempo hari, saya merencanakan perjalanan singkat untuk memberi cap perdana pada paspor Baby H. Cuma 3 hari 2 malam, dengan itinerary yang longgar. Dan, perkiraan biaya yang nggak terlalu besar. Seirit-iritnya jalan di Singapura, tetap tidak lebih murah daripada jalan di negara sebelahnya (baca:Malaysia) sih. Tapi, dengan pertimbangan lebih baby friendly, akhirnya kami memutuskan untuk jalan singkat ke Negeri Singa.

Lalu, aspek apa saja yang bisa diirit?

Penginapan

Saya termasuk yang nggak terlalu ngejar penginapan termurah karena bawa bayi. Saya belum yakin membawa Baby H menginap di hostel atau harus share kamar dengan yang lain. Saya pikir, penginapan bukan aspek utama yang bisa diefisiensi.

Jadi, tetap hotel pilihan kami. Tentu hotel yang nggak terlalu mahal. Yang penting dekat dengan akses transportasi. Setelah mempertimbangkan ini-itu, kami menjatuhkan pilihan pada Hotel Fregrance Bugis. Letaknya sangat strtategis. Dekat dengan halte-halte bus yang membawa kami ke banyak landmark. Kalau mau naik MRT, stasiun MRT Bugis pun tinggal jalan kaki sekira 200 meter.

Di sebelah hotel tempat kami menginap juga ada 81 Hotel Bugis dan Amaris Hotel. Sederetan, sebelah-sebelahan. Sama-sama strategis. Kalau tujuan ke Singapura bertumpu pada transportasi publik, kawasan ini oke punya.

Hotel Fragrance yang kami inapi, juga menempel dengan 7 eleven. Kalau mau belanja kecil-kecilan atau top up Ez-Link, tinggal keluar dari lobby, sudah bertemu 7 eleven.

Lalu, bagaimana caranya agar tetap bisa menghemat anggaran penginapan? Cari promo. Klise, ya. Saya book hotel ini via Mister Aladin. Karena saat cek di Trivago, ternyata yang menawarkan rate paling murah adalah Mister Aladin.

Sebenarnya ada kawasan di Singapura yang rate hotelnya lebih murah. Yakni di Geylang. Tapi, berhubung area itu adalah red district, kami geleng kepala.

 

Penerbangan

Relatif banyak penerbangan murah ke Singapura, terutama saat weekdays. Saya juga nggak ikut promo-promo dengan diskon gila. Tapi, ternyata lumayan juga, kami dapat tiket per orang di bawah 1 juta untuk pulang-pergi. Bisa cek di Traveloka atau Tiket.com untuk memperoleh harga termurah, ya. Kalau beruntung, bahkan untuk promo standar 500 ribu bisa pulang-pergi lho.

 

Makan

Ya, harga standar makanan di Singapura berkisar 5 SGD per porsi. Standar. Bukan yang muluk-muluk. Tapi, bisa saja kok dapat harga lebih murah dari itu.

Hotel kami yang berada di kawasan Bugis memungkinkan untuk membeli makanan murah di Albert Center atau Qiji Restaurant. Albert Center adalah foodcourt yang terletak di belakang Bugis Street (dari arah Bugis Junction). Kalau mau yakin halal, datanglah di deretan paling belakang. Makanan Indonesia pun ada, dari sate, soto, sampai lontong sayur. Kedai Mamak yang menjual Briyani, Prata, dan saudara-saudaranya juga ada. Yang penting, harganya syahdu. Bisa kenyang dengan 2-3.5 SGD. Girang dong, ya.

Ada juga Kedai Ananas yang dulu sangat terkenal di kalangan backpacker. Kedai-kedai ini banyak bertebaran di stasiun MRT. Salah satunya di Stasiun Lavender. Tapi kini, kedai-kedai itu sudah berganti nama. Saya juga belum update dengan info ganti nama ini.

Nah, kalau yang saya sebut terakhir ini, favorit banget. Qiji. Qiji adalah semacam restoran cepat saji minimalis yang menjual nasi lemak, laksa Singapore, popiah, dan lain-lain. Harganya masih bersahabat. Rasanya juga masih nyambung dengan lidah kita. Dan, yang penting, halal.

Di dekat hotel, Qiji ada di Shaw Tower. Tinggal nyeberang sedikit. Menu andalan saya adalah Laksa dan Poppiah. Yummehhh deh.

Untuk minum, banyak orang yang menyarankan untuk membawa botol minum untuk diisi tap water. Iya kalau nemu mesin tap water. Kalau nggak?

Keran yang bisa kita nikmati gratis itu memang tersebar di beberapa tempat umum. Kami sempat mencoba juga saat di Changi. Rasanya juga enak-enak saja. Segar, dingin. Tapi, kami tetap beli air minum botolan di sana.

Cara supaya dapat murah, belinya di swalayan seperti Cold Storage dan Fair Price. Harganya masih manusiawi kok. Misal, umuran 600ml seharga 65 sen atau yang 1.5 liter seharga 1.2 SGD.  Untuk merek-merek tertentu bahkan bisa lebih murah beberapa sen.

Biaya Transportasi

Nah, karena kami nggak ber-budget gede, transportasi publik adalah pilihan utama. Cukup beli Ez Link, beres deh mau kemana-mana. Ez Link bisa dibeli dengan harga 12 SGD dengan saldo berisi 7 SGD. Selanjutnya, tinggal isi ulang saja.

Mau naik bus atau MRT tinggal tap. Tidak perlu ribet cari recehan atau antre di mesin tiket.

Sebagai gambaran, kami yang berada 3 hari 2 malam di Singapura, membutuhkan saldo sekitar 17 SGD per orang. Infant tidak dikenakan biaya, ya. Untuk anak-anak di bawah 7 tahun juga free.

Lalu, bagaimana kami bisa sukses kemana-mana dengan transportasi publik? Install aplikasi Go There Singapore. Mau kemana-mana tinggal masukan asal dan tujuan, Go There akan memberi pilihan transportasi yang kita butuhkan.

Di postingan lain, saya akan bahas tentang Go There lebih dalam deh.

 

Wisata Gratisan

Nah, karena memang ini jalan-jalan tipis, kami cukup cari wahana wisata gratis. Yang gratis bukan berarti nggak bagus. Apalagi, karena bawa bayi, rasanya nggak ‘cucuk’ kalau dibawa ke Universal Studio, misalnya. Jadi, apa saja gratisan yang bisa kita nikmati? Banyak lah. Ada Merlion Statue, Garden by The Bay, Laser Show di Marina by Sands, dan banyak lagi. Lebih detailnya, tunggu di postingan berikutnya. :p

 

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

©2017 Anggrahini KD's Personal Blog - By LarisBanget.Com